Balada Tentang Malam

Di tengah-tengah keramaian dan suara orang berteriak-teriak

Semut itu berjalan menepi keluar dari lingkaran para manusia

Gelap di persimpangan gang menjadi saksi

Sepi malam ini

Gelap di persimpangan jalan bisu bernyanyi

Mimpi tak jadi arti


Ranting Yang Lurus

Ketika ia memegang sebuah ranting bercabang dua

Selalu ingin dipatahkannya salah satu cabangnya sehingga menjadi satu garis lurus horizontal

Tapi bunyi “krak” nya berteriak lebih dulu

Jauh sebelum rasa takut datang karena ketidaktahuan

Pun setelahnya garis itu tetap tidak bisa lurus


White

God

Do i really deserve?


Titik dan Putih

Aku tertawa melihat sebuah titik yang digambarkan seorang anak kecil di atas sebuah kertas putih bersih, yang merupakan awal imajinasinya melukis sesosok wanita yang indah, tapi diurungkannya karena titik itu telah mengandung 8 warna, mejikuhibiniu dan sebuah hitam.

Sungguh.

Indah.


Jelang Pengulangan

satu. dua.

sekejap saja pengulanganku tiba

dua. satu.

satu dua menjelang

menyeretku masuk ke dua satu


Laba-labaku

Jejaringmu membawa bongkahan benang putih yang mengikat namun tak kunjung jadi merah

Dan ketika aku tersadar telah terjerat di dalamnya bagai kepompong bisu

Sampai kapan mau bermain?


Lagu Pagi

Pada rumput yang bergoyang

Dan dewi-dewi di atas sana

Aku membawakan sebuah aubade

Tentang lagu pagi yang didaraskan pada malam yang ramai

dan bertanya

Mengapa begini porak?