Petir dan Angin Malam

Ia tak lagi melihat cahaya lampu yang biasa menemaninya sambil membolak-balik lembar demi lembar buku itu.

Dengan kedua tangan susah payah menutup kupingnya dari gemuruh petir di luar sana.

Ia cari-cari angin malam yang sempat mendinginkan tulangnya.

Tunggu.

Riuh rendah itu ternyata dari dalam mulutnya sendiri.

Di gelap itu ia berkelahi dengan semua benda yang ada di sekelilingnya.

Di gelap itu ia mengambil pisau, bermaksud menghunjamkannya ke bilur-bilur nadinya.

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s