Petir dan Angin Malam

Ia tak lagi melihat cahaya lampu yang biasa menemaninya sambil membolak-balik lembar demi lembar buku itu.

Dengan kedua tangan susah payah menutup kupingnya dari gemuruh petir di luar sana.

Ia cari-cari angin malam yang sempat mendinginkan tulangnya.

Tunggu.

Riuh rendah itu ternyata dari dalam mulutnya sendiri.

Di gelap itu ia berkelahi dengan semua benda yang ada di sekelilingnya.

Di gelap itu ia mengambil pisau, bermaksud menghunjamkannya ke bilur-bilur nadinya.


Lorong Gelap Itu

Di lorong sempit hampa oksigen itu aku berjalan sambil meraba-raba dinding nya yang termakan usia, yang pangkal pertemuannya dengan tanah menjadi tempat tikus-tikus jenaka berlarian.

Kunyalakan sebatang korek api untuk melihat ujungnya.

Apinya meredup.

Meredup.

Lalu mati.

Tetap saja tak tampak benda di ujung lorong itu.

 

Di lorong gelap yang sempit itu aku berjalan.


Mawar dan Kumbang

Mawar yang mekar awal kesembilan itu hanyut terbawa aliran sungai di lembah penuh kuning hijau, membius bocah yang tiba-tiba memetik tangkainya, lalu berdarah karena durinya.

 

“Ah!”

Diletakkannya kembali si mawar.

“Biar untuk mainan kumbang saja”

 

Dan layu menunjuk-nunjuk di ujung jalan.


Cerita Hujan

harum hujan yang dihirup ketika keluar dari kamar membuatnya berhenti berjalan di lantai dingin itu: haruskah aku keluar bermandi hujan seperti waktu kecil, atau kembali masuk kamar menikmati dingin dan harum nya seperti yang ayah dan ibu sering lakukan?

sungguh suara dari dalam kamar itu tertutup bunyi rintiknya


Hikayat Hati

Kalau saja senja muncul tak secepat subuh

Tentu dawai gitar itu tak berbunyi

Tentu senja itu tak kemuning

Kalau saja hitam tak berubah secepat putih

Tentu saja tak hilang hati

Tak hilang pikiran

Tapi siapa yang bisa menumpuk balok-balok kayu dan bebatuan kali menjadi sebuah dam

Setabah hujan bulan Juni, sependek kisah kayu dan api, sepilu isyarat awan kepada hujan

Karena sederhana saja tak cukup singkat baginya…


Domba, Semut, dan Rumah Kayu

/1/

Seekor domba pergi meninggalkan kawanan dan masuk hutan

Matanya berbinar karena logam kilau gemilau

Ketika seekor semut di seberang jurang memanggil, ia tegakkan badan, angkuhkan kepala

Meloncat jauh ke atas jurang

/2/

Seekor domba terbangun dengan memar-memar di seluruh badan

Dengan merah darah di bulu-bulunya, kasat sepetak padang, kolam air, dan rumah kayu

/3/

Pagi waktu itu

Seekor domba berjalan lunglai

pulang ke rumahnya…


Cerita Bocah Kecil, Malaikat-malaikat, dan Masa Tua

Gadis kecil itu masih saja berjalan menyusuri satu tambah satu sama dengan dua

Sampai ketika ia tiba pada angka sepuluh dan duduk di bangku sekolahan dengan angka nol lebih banyak

Ketika malaikat-malaikat itu datang dan berdiam sejenak di atap rumahnya, ia masih saja berjalan sampai bertemu angka dua belas

Ketika malaikat-malaikat itu beranjak pergi dari gubuk itu, ia tak sempat bersalaman untuk mengucapkan kata pamit

Gadis kecil itu masih terus berjalan mengitari detik dan detak

Kali ini ditemani ia yang dilahirkan serahim dengannya

“Kita bisa berdoa”, kata seorang kawan

Tapi hujan tetap turun

Gadis kecil itu masih terus berjalan menikmati rintik-rintik

Dengan isak tangis ia menantang masa tua

Dengan isak tangis ia terus berjalan…

*untuk seorang kawan, yang dengan sepotong kisah hidupnya berhasil membuat kita menangis