Balada Tentang Malam

Di tengah-tengah keramaian dan suara orang berteriak-teriak

Semut itu berjalan menepi keluar dari lingkaran para manusia

Gelap di persimpangan gang menjadi saksi

Sepi malam ini

Gelap di persimpangan jalan bisu bernyanyi

Mimpi tak jadi arti


Ranting Yang Lurus

Ketika ia memegang sebuah ranting bercabang dua

Selalu ingin dipatahkannya salah satu cabangnya sehingga menjadi satu garis lurus horizontal

Tapi bunyi “krak” nya berteriak lebih dulu

Jauh sebelum rasa takut datang karena ketidaktahuan

Pun setelahnya garis itu tetap tidak bisa lurus


White

God

Do i really deserve?


Titik dan Putih

Aku tertawa melihat sebuah titik yang digambarkan seorang anak kecil di atas sebuah kertas putih bersih, yang merupakan awal imajinasinya melukis sesosok wanita yang indah, tapi diurungkannya karena titik itu telah mengandung 8 warna, mejikuhibiniu dan sebuah hitam.

Sungguh.

Indah.


Jelang Pengulangan

satu. dua.

sekejap saja pengulanganku tiba

dua. satu.

satu dua menjelang

menyeretku masuk ke dua satu


Laba-labaku

Jejaringmu membawa bongkahan benang putih yang mengikat namun tak kunjung jadi merah

Dan ketika aku tersadar telah terjerat di dalamnya bagai kepompong bisu

Sampai kapan mau bermain?


Lagu Pagi

Pada rumput yang bergoyang

Dan dewi-dewi di atas sana

Aku membawakan sebuah aubade

Tentang lagu pagi yang didaraskan pada malam yang ramai

dan bertanya

Mengapa begini porak?


Nol

pernahkah hati bercakap dengan langit?
dan menuntut tanya mengapa sebuah nol adalah garis melingkar dan bukan untaian tinta atas ke bawah
pernahkah kertas tercoret manja?
tanpa heran karena tiada makna dalam jumawa goresan-goresan di atasnya

sinkronisasi nolku yang pertama di keheningan sembilan
kata alam tanpa inspirasi
bagiku ingin


benarkah?

dari waktu yang berhenti sejenak
melangkah kembali
dan ketika stigma dibasuh gelak
benarkah ini sebuah terminal?

*again, for her from the past


Tentangku, TentangNya, dan Tentang Kematian

Suatu pagi aku terbangun dari tidur panjang, tanpa mimpi yang membuat terjaga dari kelelahan tanpa akhir. Sekelilingku hanya aku. Tiada ada ramai. Seolah-olah aku berdiri di tengah-tengah pepohonan menjulang tinggi dari akar-akarnya yang bercengkerama kuat dengan tanah. Di satu detik, di satu dentang jantung, aku berbicara tentang kematian, tentang dunia setelah mataku tertutup.

Salju tidak turun ketika itu. Dan bebatuan es pun tak tampak. Angin pagi sepoi-sepoi nyaris menghilang. Yang ada hanya sejuk yang menggelitik. Tak ada dingin. Tak ada dingin. Tak ada dingin. Dari dalam, ia keluar. Pun tubuhku merasakan kengerian dan sebuah tanda tanya besar akan misteri kematian yang penuh pedagogi teoritis. Yang aku tanyakan hanya hal-hal sepele: ke mana jiwaku tersungkur, bagaimana rasanya di sana. Hal sepele. Dan hal sepele ini, yang membuat seseorang sepertiku tersingkir dari dunia, menuju tempat pengasingan yang tentu tak seorang pun bisa menjawabnya.

Suatu pagi Aku terutus ke dunia. Tanpa mahkota di kepalaKu, tanpa singgasana di bawah tempat tidurKu.

Suatu siang Aku berdarah-darah. Mahkota di atas kepalaKu, dengan orang-orang mengarakKu. Bukan tongkat di telapak tanganKu, tapi ujung paku yang membuatKu bersandar pada sebuah kayu. Aku penjahat. Aku pendosa. Aku Raja!

Suatu sore Aku pergi dari dunia. Dengan penyerahan bagai domba yang dibawa untuk dikuliti, Aku pergi. Dari dunia.

Aku terbangun dari tidur panjang. Dia pun takut mati. Tapi cawanNya harus terteguk. Dan sadar menyelimuti, ketika aku mati, aku akan tertawa nyaring bahagia. Di lututNya aku akan tersungkur dan hidup abadi dalam damai, selamanya.

 

Johanes Berchman Sigit Noviandi, March 21st, 2008

Good Friday, when He died for washing my sins away…Love You, Lord…


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.