Titik dan Putih
Aku tertawa melihat sebuah titik yang digambarkan seorang anak kecil di atas sebuah kertas putih bersih, yang merupakan awal imajinasinya melukis sesosok wanita yang indah, tapi diurungkannya karena titik itu telah mengandung 8 warna, mejikuhibiniu dan sebuah hitam.
Sungguh.
Indah.
Mahadewi Angka 10
Kalau ku berlari dan mengejar angka 10
Biar malam terus malam tak terlihat dia yang bernama dewi itu
Cukup kupadu saja dua angka tersebut
Cukup buatku.
Kalau ku bernafas dan terus menatap angka 10
Sembilan pelangi pun tiada cukup indah
Cukup kutambah saja satu dan nol itu
Cukup.
Takaran Langit
jika saja
dunia punya takaran
untuk mengukur tingginya langit
aku pasti melompat sampai ke ujungnya yang paling tinggi
dan berteriak-teriak kegirangan
ada dewi yang terbang bersamaku hari ini…
Menghitung Hari
sisa dua hari
menuju penghabisan
seandainya masih tersisa lebih
biar ku dapat berpikir dan menabuh rasa
bukan tanpa tau apa
Jelang Pengulangan
satu. dua.
sekejap saja pengulanganku tiba
dua. satu.
satu dua menjelang
menyeretku masuk ke dua satu
Laba-labaku
Jejaringmu membawa bongkahan benang putih yang mengikat namun tak kunjung jadi merah
Dan ketika aku tersadar telah terjerat di dalamnya bagai kepompong bisu
Sampai kapan mau bermain?
Putaran Keduaempat
Suara naviri masih terdengar dari aula langit
Ketika mereka duduk di depan sebuah teras dan bercakap bernyanyi
“Kenapa?”
“Ya karena..”
Tiga tiga puluh saat sabda datang dan mengundang diri asik bermain dalam tanya mengapa titik ini berputar balik saat hati masih bisa merasa?
Jawaban yang sama dari mengapa setelah dua tiga lima sembilan adalah empat buah nol dengan satu titik dan bukan dua empat nol nol
Begitu pentingnya nol bagi-Mu, bukan?
dari inspirasi yang datang bersama aubade pukul 9.45 yang disampaikan melalui A+, tentang pertanyaan aneh, tapi filosofis tak terhingga.
dari inspirasi yang datang dari dia yang sempat menarik hati, dan kemarin menyita detik-detik ku, yang datang dari Dia, tentang perasaan yang aneh, tapi dalam tak terselami…
Lagu Pagi
Pada rumput yang bergoyang
Dan dewi-dewi di atas sana
Aku membawakan sebuah aubade
Tentang lagu pagi yang didaraskan pada malam yang ramai
dan bertanya
Mengapa begini porak?
Tetes Lelah
Tetes hujanku membawa seribu gelombang dan pecahlah karang
Otot-otot yang keluar dan nafas terbatuk-batuk
Lelahkah?
Tujuh belas kali ini membawa tanda besar
katanya hebat
‘untuk apa?’ tanyaku

