Cerita Bocah Kecil, Malaikat-malaikat, dan Masa Tua
Gadis kecil itu masih saja berjalan menyusuri satu tambah satu sama dengan dua
Sampai ketika ia tiba pada angka sepuluh dan duduk di bangku sekolahan dengan angka nol lebih banyak
Ketika malaikat-malaikat itu datang dan berdiam sejenak di atap rumahnya, ia masih saja berjalan sampai bertemu angka dua belas
Ketika malaikat-malaikat itu beranjak pergi dari gubuk itu, ia tak sempat bersalaman untuk mengucapkan kata pamit
Gadis kecil itu masih terus berjalan mengitari detik dan detak
Kali ini ditemani ia yang dilahirkan serahim dengannya
“Kita bisa berdoa”, kata seorang kawan
Tapi hujan tetap turun
Gadis kecil itu masih terus berjalan menikmati rintik-rintik
Dengan isak tangis ia menantang masa tua
Dengan isak tangis ia terus berjalan…
*untuk seorang kawan, yang dengan sepotong kisah hidupnya berhasil membuat kita menangis
Ia Tidak Pernah Takut
Ia tidak pernah takut akan kanan atau kiri
Ia tidak gentar atas depan dan belakang
Ia hanya takut akan lorong gelap yang ditemuinya setelah menapak langkah kesekian ratus…
Sungguh dari semula ia tak akan bisa melihat kerikil atau batu kali di tengah jalan itu
Balada Tentang Malam
Di tengah-tengah keramaian dan suara orang berteriak-teriak
Semut itu berjalan menepi keluar dari lingkaran para manusia
Gelap di persimpangan gang menjadi saksi
Sepi malam ini
Gelap di persimpangan jalan bisu bernyanyi
Mimpi tak jadi arti
Ranting Yang Lurus
Ketika ia memegang sebuah ranting bercabang dua
Selalu ingin dipatahkannya salah satu cabangnya sehingga menjadi satu garis lurus horizontal
Tapi bunyi “krak” nya berteriak lebih dulu
Jauh sebelum rasa takut datang karena ketidaktahuan
Pun setelahnya garis itu tetap tidak bisa lurus
Bait-bait Suci Tentang Alam
Aku berjalan di tengah2 hutan menyisir sungai menuju air terjun di ujung bumi
Ketika sebuah kembang taman bermunculan hadir pula persimpangan 3 arah masing-masing berjarak 50 derajat
Kepala tengadah menghadap bintang
Tangan terbuka memeluk gunung
Hijau hijau coklat kelabu
Mata terpejam berucap tanya
Tetap
Butuh kebesaranMu, Wahai Penguasa…
White
God
Do i really deserve?
Titik dan Putih
Aku tertawa melihat sebuah titik yang digambarkan seorang anak kecil di atas sebuah kertas putih bersih, yang merupakan awal imajinasinya melukis sesosok wanita yang indah, tapi diurungkannya karena titik itu telah mengandung 8 warna, mejikuhibiniu dan sebuah hitam.
Sungguh.
Indah.
Mahadewi Angka 10
Kalau ku berlari dan mengejar angka 10
Biar malam terus malam tak terlihat dia yang bernama dewi itu
Cukup kupadu saja dua angka tersebut
Cukup buatku.
Kalau ku bernafas dan terus menatap angka 10
Sembilan pelangi pun tiada cukup indah
Cukup kutambah saja satu dan nol itu
Cukup.
Takaran Langit
jika saja
dunia punya takaran
untuk mengukur tingginya langit
aku pasti melompat sampai ke ujungnya yang paling tinggi
dan berteriak-teriak kegirangan
ada dewi yang terbang bersamaku hari ini…
Menghitung Hari
sisa dua hari
menuju penghabisan
seandainya masih tersisa lebih
biar ku dapat berpikir dan menabuh rasa
bukan tanpa tau apa

leave a comment